REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polusi udara kerap disebut sebagai silent killer atau pembunuh senyap karena dampaknya yang bekerja perlahan, nyaris tak terasa, namun mematikan. Ancaman ini tidak selalu hadir dalam bentuk asap pekat atau bau menyengat, tetapi justru menyusup diam-diam melalui udara yang setiap hari dihirup manusia.
Dalam peluncuran program FIREFLIES (Fostering Innovation, Research, and Engagement for Fire-Free Living through Inclusive Education and Solutions) yang digagas Dietplastik Indonesia, Rabu (4/1/2026) lalu, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia sekaligus pakar kesehatan lingkungan Prof. Budi Haryanto menyebut polusi udara sebagai ancaman kesehatan terbesar yang dihadapi umat manusia saat ini.
“Polusi udara merupakan ancaman kesehatan terbesar dibandingkan dengan polusi air, polusi tanah, maupun berbagai bentuk kerusakan lingkungan lainnya,” kata Budi, merujuk pada pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2016–2017.
Di Indonesia, sumber polusi udara tidak bisa dilepaskan dari persoalan pengelolaan sampah. Setiap hari, Indonesia memproduksi sekitar 175.000 ton sampah. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen tidak terkelola dengan baik. Sebagian besar sampah yang tidak terkelola itu akhirnya dimusnahkan dengan cara dibakar, baik secara terbuka di lingkungan permukiman maupun di lokasi pembuangan akhir.
Kota-kota besar menjadi wilayah yang paling terdampak. Jakarta menghasilkan sekitar 8.000 ton sampah per hari, Surabaya sekitar 2.000 ton, dan Bandung sekitar 1.800 ton. Volume sampah yang besar, ditambah praktik pembakaran terbuka, menimbulkan tekanan serius terhadap kualitas lingkungan dan, terutama, kesehatan masyarakat.
Budi menjelaskan pembakaran sampah terbuka merupakan salah satu sumber utama polusi udara berbahaya. Sampah yang dibakar bukan hanya sampah organik, tetapi juga plastik dan limbah elektronik. Sampah elektronik seperti kulkas, pendingin udara, televisi, hingga microwave yang sudah tidak terpakai sering kali dibongkar untuk diambil logamnya, sementara sisanya dibakar.
“Sebagian besar dari proses itu berakhir di udara. Kita menghirupnya setiap hari, tapi kita tidak tahu apa saja yang masuk ke dalam paru-paru kita,” ujarnya.
Selain pembakaran, pengelolaan sampah yang buruk juga memicu proses pembusukan secara anaerob di tempat pembuangan. Proses ini menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang kuat, serta berbagai senyawa kimia volatil atau volatile organic compounds (VOCs) yang berbahaya bagi kesehatan.
Zat-zat pencemar tersebut hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari partikel halus hingga senyawa kimia kompleks. Ketika terhirup, dampaknya tidak hanya berupa gangguan kesehatan jangka pendek seperti batuk, pilek, flu, atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Bahaya yang lebih serius justru muncul dalam jangka panjang, ketika partikel-partikel halus dan zat beracun itu masuk lebih dalam ke dalam tubuh.
Budi menjelaskan, di dalam polusi udara terdapat partikel seperti black carbon, karbon dioksida, hidrokarbon, serta logam berat. Zat-zat ini dapat terdeposit atau menetap di berbagai organ tubuh, termasuk paru-paru, jantung, sistem saraf, saluran cerna, kulit, darah, hingga tulang.
“Ini menjawab kenapa sebagian besar perempuan Indonesia mengalami anemia,” kata Budi. Ia menjelaskan pencemaran logam berat dari polusi udara dapat menghambat produksi sel darah merah di sumsum tulang. Akibatnya, kadar hemoglobin menurun dan anemia menjadi sangat umum ditemukan.
Temuan ini, menurut Budi, terlihat jelas dalam berbagai pemeriksaan kesehatan massal. Persentase masyarakat yang mengalami anemia cukup tinggi. Dampak polusi udara juga tidak berhenti di situ, tetapi merambah ke berbagai sistem tubuh, termasuk sistem reproduksi yang ikut terganggu akibat paparan pencemar dalam jangka panjang.

12 hours ago
5




















:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5474996/original/058742900_1768546902-ruang_aman_anak.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400142/original/014247800_1762066801-salah_2.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5332528/original/097261700_1756516083-AP25241696205448.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5461821/original/055387700_1767456771-WhatsApp_Image_2026-01-02_at_14.32.56__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456067/original/065077000_1766800548-5.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5473427/original/064018200_1768443556-Potret_sisi_belakang_bodi_Redmi_Note_15_Pro_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2974420/original/001300500_1574390017-0E6A0619-01.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475667/original/021958400_1768638501-pelanggaran_hak_anak.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4845604/original/2700_1716902848-sad-female-workaholic-keeps-hands-chin-busy-making-project-work-studies-papers-wears-elegant-white-shirt-sits-desktop-unknown-people-stretch-hands-with-notes-alarm-clock-smartphone.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4544916/original/073192300_1692571729-AP23232705384145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5460912/original/047178900_1767326454-anak.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4689113/original/073979500_1702800754-000_33R68WQ.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5458940/original/098049400_1767142292-MU_vs_Wolves__4_.jpg)